setengah mimpi, setengah dirimu

aku berada di setengah mimpi,

bertemu setengah dirimu.

apakah dirimu, setengah yang lain

terpanggil olehku?

 

setengah aku datang,

sekonyong-konyong, terengah-engah

menyodorkan kilat abu-abu

 

aku tak bisa bereaksi,

karena dirimu, setengah yang datang

tak mendengar pekikan petir abu-abu.

 

setengah dirimu bergumam,

kakiku tersaungkut di sela lamunan,

aku menertawai sekumpulan debu yang kita acuhkan.

 

 

Advertisements

Interferensi

Sore itu jalan kolonel masturi dibasahi Hujan yang tidak terlalu deras, tapi bukan gerimis. Kumandang adzan bersaut-sautan,padahal jarak antar masjid hanya berbeda beberapa rumah, mereka seakan berlomba untuk jadi yang paling didengar seantero desa. Suara adzan, suara knalpot motor, suara klakson mobil, suara tukang putu. Semua berinterferensi di pikiran Venka.

Berinterferensi, itu adalah istilah milik Venka, Yang muncul dan terucap olehnya ketika ia mengamati langit tak berlembayung di ujung horizon.

Apa yang berinterferensi? Semuanya.

Fenomena hari ini bukan fenomena yang tak lazim dihadapi. Saking lazimnya, selain Venka, tak ada yang betul-betul peduli untuk melabelinya apapun. juga oleh lelaki itu, yang baru menyusuri jalan kolonel masturi dengan bermodal payung dan sendal jepit. Mencari-cari tukang jamu terdekat yang bisa ia datangi.

“We have cheap taste aint we?” ucap lelaki itu seraya menggenggam keresek gelap.

Malam ini mereka adalah orang tua, bukan bar buddhist seperti biasanya. Tak ada neon bermerk miras atau rokok, hanya ada penerangan sederhana di beranda vila. Tak dengan musik ber beat tinggi atau bass drop, hanya suara hujan dan sayup-sayup suara john mayer dari dalam vila.

Hujan masih membasahi bumi cisarua. Alcohol and petrichor, did they ever blend well?

“don’t you have something like nirvana?”

“you know, the moment is not right” ucapnya menuang ronde pertama malam ini.

Semakin malam, sayup-sayup hujan semakin tidak terdengar, or the alcohol have done its job? Mereka sendiri tak tahu. Sudah berapa lama mereka di beranda? Mereka berdua juga tak tahu. Kecuali untuk ke kamar kecil, they pretty much pinned on that position.

Semakin sedikit sisa anggur di botol semakin panjang diam diantara mereka berdua. Beberapa obrolan dicoba untuk memecah canggung, tapi diam seakan adalah sisa malam yang mereka tau. Bahkan ketika mereka bisa menatap bulan dengan jelas. Iya, hujan sudah reda sedari tadi. But their mind been out of shape to noticed it.

“dit, have you ever imagine what it feels like to be raped?”

“ugh, no. aint that a weird question to ask?”

Dari air mukanya, lelaki itu jelas tidak nyaman dengan pertanyaan venka.

“you know, I might’ve known how it feels”

“well,have you ever?”

“of course not, It’s on my dream. I remembered that I was so pissed off.  it was on my highschool days. Rasanya wajar bukan anak SMA ingin teriak apa yang dia inginkan didepan siapa saja? In the dream, I did it at the edge of the beach

Ombak yang sedari tadi menyapu kaki ku pelan-pelan menjadi tangan-tangan yang merambat. Begitu aku sadar, ternyata aku berdiri di samudera jemari. Jari-jari yang saling melipat dan menggulung menjadi gelombang ombak yang menghempas tubuhku. Ombak jemari itu pada awalnya hanya menyentuh kakiku

Ombak yang lebih besar datang. Menghantam tubuhku tak berdaya. They no longer touching. mereka meraba-raba dan menggenggam tubuhku, they’re all over my body! my naked body! On my thights, on my belly, on my breast they’re everywhere!”

Venka mulai meraba-raba tubuhnya sesuai deskripsi. Mereka dapat mendengar degup jantung masing-masing. wajah venka memerah. Dan lelaki itu terus mencoba menghindari kontak mata darinya.

“it feels good and feels bad at the same time, I want to break free as soon as posible. I want to scream as loud as possible. Tapi tubuhku gak bisa mengikuti apa yang aku mau, dan suara ku gak keluar sama sekali.”

Venka meneguk sisa anggur di gelasnya, lelaki itu masih ragu memperhatikan.

“hal yang aku sadari selanjutnya adalah adalah ombak yang sangat besar menghantamku. Aku terhempas tak berdaya,kemudian tenggelam di samudera jemari. Aku ga bisa nafas, they strangling my neck till I lost my will to survive.

Dan kemudian aku bangun dengan tubuh basah penuh peluh.”

“that’s not a pleasant experience” respon lelaki itu

“I feel so angry, I was raped by my own thoughts! its weird and I want to know about it. But in some moments later, my rage goes down, and I understand what it is”

“what is it?”

“tangan-tangan itu adalah tanganku sendiri. Dan tangan itu menyentuh bagian paling suci dari diriku.

My own pride.

You know I have a need of being perfect, became the best. Because simply I AM.

And that time, everything is imperfect. You might called it jealousy. But I want to put the blame to anybody! everybody!

Rasanya mudah sekali menyalahkan orang lain karena inkompetensi diri. We only accept things that make ourself feels great. And trash things that less than half good”

“illusion of grandeur”

“you know, I feel it right now. Everything is started to slip away. But there’s no one to blame appart myself”

Semua berinterferensi. Semuanya. Peluh, anggur, bau alcohol, petrichor,sinar bulan, motor dari kejauhan, hansip berpatroli, tangan, jari, gelas, air mata. Semua berinterferensi hingga saling meniadakan.

lelaki itu tiada kuasa untuk tidak mendekapnya. Air mata venka bercucuran di bahu lelaki itu. keduanya tak menyangka dekap erat lelaki itu membuat jantung merka berdenting di pada gelombang yang sama.

bibirnya ada di bibir lelaki itu sekarang. Bila perlu di deskripsikan, rasanya seperti anggur, dan venka mabuk oleh lelaki itu. dan jari-jari itu jauh berbeda dengan samudera jemari yang dibayangkan sebelumnya. Mereka menyentuh sudut-sudut yang tak terjamah. tenggelam adalah satu-satunya hal yang venka inginkan.

 

 

Bara Dalam Sekam

Kami adalah bara dalam sekam.

Api yang jadi bahasamu adalah apiku juga.

 

Hengkanglah semua yang terbilang.

Manusia yang tak bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri

Lebih baik enyah tak bersuara!

 

Aku adalah adik, kakak, dan orang tuaku,

Juga kawan, tuan, serta guruku.

Kami tak akan terpecah oleh suaramu!

 

karena keadilan sejatinya selalu buta.

Kamipun akan menutup mata ragawi.

Tataplah kami melalui nurani!

 

keadilan bukan hanya tentang menyalakan api

Tapi siapa yang berani membakar kebatilan dengannya

Kami adalah bara dalam sekam.

Apimu tangguh, tapi kami kan berdiri dihadapanmu.

Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini:

lampu pertama terlewati.

Aku melupakan arah tujuanku

lampu kedua.

Aku lupa titik awal berangkatku

lampu ketiga.

Aku lupa tentang siapa diriku sebenarnya

Hanya tiga kilat yang akan relevan malam ini. karena kilat-kilat selanjutnya hanya akan menghapus hal yang sama berulangkali:

Aku melupakan diam yang diciptakan sendiri oleh kami—Aku, dan perempuan di kursi penumpang mobilku.

µ

malam itu adalah Billie Holiday’s night—dimainkan oleh band yang berisikan vokalis, drummer, pianis, dan saxofonis—Di restoran yang sudah kureservasi satu bulan yang lalu. Perempuan itu masih asik memperhatikan mereka sembari memainkan buah cherry di mangkuk eskrimnya. Sedangkan di seberang perempuan itu, aku sibuk menulis kata-kata di keningku sendiri.

Rasanya keringatku seperti mengeras, menggumpal dan mengkristal. Semua terasa asin di lidahku—tentu dia tak akan merasakannya.  Tak hanya keringat yang mengkristal di malam itu. Word-processing di kepalaku juga sepertinya mengalami hal yang sama. kata-kata yang aku siapkan matang-matang sebelum berangkat seakan terlupa begitu saja. aku harus menulis ulang kata-kata tersebut. Aku harus mengucapkan selamat tinggal hari ini. kalau tidak, …

Apa yang terjadi kalau aku tidak ucapkan? Tentu hal buruk akan terjadi.

menjelang kami menandaskan hidangan penutup kami. Aku terlebih dahulu menutup hubungan kami. Aku sempat berharap kata-kata yang aku tulis ulang sebelum ku ucap tidak ada yang akan menyakiti perasaannya.

Pada ujungnya aku tetaplah menyakiti perasaannya. That’s the point of a goodbye, isn’t it?

µ

Ada sebuah perbincangan dalam diam. Diluar dari cangkang tubuh kita sendiri, Uap pikiran kami mengisi ruang-ruang kosong di mobilku layaknya oksigen yg mengisi rongga paru-paru. Ada hal yang perlu aku mengerti dari dia. Ada hal yg ia harus mengerti dari aku. Dan hal-hal lain yang tak layak terucap, muncul begitu saja melalui lorong-lorong rasa bersalah. Kenangan atas 1 tahun hubungan kami yang akan terhenti begitu saja begitu kami sama-sama mengucap selamat tinggal didepan rumahnya.

What should we do to fill the silence when we are not relevant anymore? Tentu, detik ini kami masih memiliki relevansi—aku tak bisa begitu saja meninggalkannya ditempat asing dengan hati pecah berkeping-keping. Aku disampingnya mencengkram roda kemudi. Sesekali mencuri pandang kearah kursi pengemudi. Memindai keberadaan air mata. Aku lupa, aku sudah tak perlu menghapus jejak sedih di pipinya dengan sapu tanganku.

‘How does it feel? ‘

‘How does it feel?’

Bob dylan bertanya-tanya dari audio mobil. Aku masih diam. ‘how does it feel, indeed?’ aku tak tau apa yg aku rasakan. Lalu apa yang dia rasakan saat ini? aku juga tak tau. Mungkin ia juga sedang memikirkan prosedur penghapus ingatan yang dapat ia ambil seketika ia turun dari mobilku.

µ

Aku turun mendahului dirinya. Kemudian membukakan pintu untuknya—I’ve never been this such a gentleman. Kulihat, sejenak ia menatap kosong kearah depan, sebelum kemudian turun dari kursi penumpang. Hari ini ia menggunakan gaun biru tua yang menawan, dengan beberapa pernik di lengan, dan kalung berwarna biru lazuli yang terlihat mempesona di kulitnya yang pucat, ternyata aku tak menyisihkan waktu untuk mengapresiasi cantiknya dia hari ini.

Dan ketika ia sudah mantap berdiri di hadapanku. Ia menatapku, tersenyum. Dan mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih. no tears was shed. I never knew I was dated such a strong girl.

“sudah waktunya kita pulang” ucapnya sebelum melangkah masuk kedalam rumahnya. Meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya menjauhi pandanganku.

‘Now you don’t talk so loud,

Now you don’t seem so proud,

About having to be scrounging for your next meal’

tak ada musik di audio mobilku. Tapi aku masih bisa mendengar bob dylan meraung-raung.

 

µ

4.00, aku sudah bisa mendengar suara dari masjid beberapa blok dari rumahku. Sudah 4 jam aku menatap langit-langit kamarku.

Ada apa? is this a regret? is this sadness?is it a hesitation?is it me? is it her? Is it us?

Ribuan pertanyaan hadir, memicu aksi dan reaksi di komponen otakku. I left someone I’ve been with for a year without any real reason. Apakah aku masih waras? Tentu aku masih waras. I remember exactly the reason: I was stealing a relationship. I stole it from the destiny. I knew it from the beginning. she wasn’t meant to be with me. Aku berada dalam sebuah hubungan yang seharusnya bukan untuk aku jalani. Dan kini aku harus memulai segalanya dari tempat yang aku tinggalkan—sendirian, juga dalam sepi.

Catatan 21 januari 2013

banyak yang percaya setiap mimpi adalah pertanda, seperti pembatas buku yang kau gunakan untuk menanda ketika kau harus menghirup udara sejenak. tiap detak yang berjentik dari jantung kita, memompa adrenalin yang menghasilkan fantasi. tiap tarikan dan hembusan paru-paru mengisyaratkan kepada otak kita agar melupakan logika.

namun apa maksud dari semua ini? ketika mimpi-mimpimu berisi sesuatu yang sama.

apa organ tubuh kita sudah mulai lelah? atau malah tubuh kita sedang memainkan sebuah sonata?
alih-alih mendengar sebuah orkestra,telingaku hanya mendengar apa yang kau ucapkan kepada ku, suaramu yang khas bergema di kepalaku

tak pernah logis, namun memang
disinilah aku, tubuhku menolak melupakanmu.

(catatan suatu malam muram, 21 januari 2013)

Collective memory

kadang saya bertanya, what does it takes for me to write my own blog?
kenapa perlu ada medium yang menampung pikiran-pikiran saya?

rasanya tak terlalu terdengar mengada-ngada, menurut saya, arus informasi yang begitu cepat lah yang menuntut kita untuk terus berfikir, untuk terus bertanya. tak ada waktu untuk  “menikmati” atau “mengkhidmati” pemikiran kita.
Continue reading Collective memory