setengah mimpi, setengah dirimu

aku berada di setengah mimpi,

bertemu setengah dirimu.

apakah dirimu, setengah yang lain

terpanggil olehku?

 

setengah aku datang,

sekonyong-konyong, terengah-engah

menyodorkan kilat abu-abu

 

aku tak bisa bereaksi,

karena dirimu, setengah yang datang

tak mendengar pekikan petir abu-abu.

 

setengah dirimu bergumam,

kakiku tersaungkut di sela lamunan,

aku menertawai sekumpulan debu yang kita acuhkan.

 

 

Advertisements

Interferensi

Sore itu jalan kolonel masturi dibasahi Hujan yang tidak terlalu deras, tapi bukan gerimis. Kumandang adzan bersaut-sautan,padahal jarak antar masjid hanya berbeda beberapa rumah, mereka seakan berlomba untuk jadi yang paling didengar seantero desa. Suara adzan, suara knalpot motor, suara klakson mobil, suara tukang putu. Semua berinterferensi di pikiran Venka.

Berinterferensi, itu adalah istilah milik Venka, Yang muncul dan terucap olehnya ketika ia mengamati langit tak berlembayung di ujung horizon.

Apa yang berinterferensi? Semuanya. Continue reading Interferensi

Bara Dalam Sekam

Kami adalah bara dalam sekam.

Api yang jadi bahasamu adalah apiku juga.

 

Hengkanglah semua yang terbilang.

Manusia yang tak bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri

Lebih baik enyah tak bersuara!

 

Aku adalah adik, kakak, dan orang tuaku,

Juga kawan, tuan, serta guruku.

Kami tak akan terpecah oleh suaramu!

 

karena keadilan sejatinya selalu buta.

Kamipun akan menutup mata ragawi.

Tataplah kami melalui nurani!

 

keadilan bukan hanya tentang menyalakan api

Tapi siapa yang berani membakar kebatilan dengannya

Kami adalah bara dalam sekam.

Apimu tangguh, tapi kami kan berdiri dihadapanmu.

Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini: Continue reading Like A rolling Stone

Catatan 21 januari 2013

banyak yang percaya setiap mimpi adalah pertanda, seperti pembatas buku yang kau gunakan untuk menanda ketika kau harus menghirup udara sejenak. tiap detak yang berjentik dari jantung kita, memompa adrenalin yang menghasilkan fantasi. tiap tarikan dan hembusan paru-paru mengisyaratkan kepada otak kita agar melupakan logika.

namun apa maksud dari semua ini? ketika mimpi-mimpimu berisi sesuatu yang sama.

apa organ tubuh kita sudah mulai lelah? atau malah tubuh kita sedang memainkan sebuah sonata?
alih-alih mendengar sebuah orkestra,telingaku hanya mendengar apa yang kau ucapkan kepada ku, suaramu yang khas bergema di kepalaku

tak pernah logis, namun memang
disinilah aku, tubuhku menolak melupakanmu.

(catatan suatu malam muram, 21 januari 2013)

Collective memory

kadang saya bertanya, what does it takes for me to write my own blog?
kenapa perlu ada medium yang menampung pikiran-pikiran saya?

rasanya tak terlalu terdengar mengada-ngada, menurut saya, arus informasi yang begitu cepat lah yang menuntut kita untuk terus berfikir, untuk terus bertanya. tak ada waktu untuk  “menikmati” atau “mengkhidmati” pemikiran kita.
Continue reading Collective memory