setengah mimpi, setengah dirimu

aku berada di setengah mimpi,

bertemu setengah dirimu.

apakah dirimu, setengah yang lain

terpanggil olehku?

 

setengah aku datang,

sekonyong-konyong, terengah-engah

menyodorkan kilat abu-abu

 

aku tak bisa bereaksi,

karena dirimu, setengah yang datang

tak mendengar pekikan petir abu-abu.

 

setengah dirimu bergumam,

kakiku tersaungkut di sela lamunan,

aku menertawai sekumpulan debu yang kita acuhkan.

 

 

Tiga perempat Purnama

Tiga Perempat purnama

Aku berderai pelitamu.

Yang tak padam oleh awan gelap

Tapi redup oleh gemerlap percakapan.

 

Tiga perempat purnama

Menghentikan waktu.

Maktu yang dimengerti oleh tupai

dan manusia.

 

Tiga perempat purnama

Aku teralihkan darimu.

Olehnya yang lebih terang

Dari setiap rembulan

 

tiga perempat purnama

aku lupa diri,

olehnya yang secerah mentari pagi.

Bara Dalam Sekam

Kami adalah bara dalam sekam.

Api yang jadi bahasamu adalah apiku juga.

 

Hengkanglah semua yang terbilang.

Manusia yang tak bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri

Lebih baik enyah tak bersuara!

 

Aku adalah adik, kakak, dan orang tuaku,

Juga kawan, tuan, serta guruku.

Kami tak akan terpecah oleh suaramu!

 

karena keadilan sejatinya selalu buta.

Kamipun akan menutup mata ragawi.

Tataplah kami melalui nurani!

 

keadilan bukan hanya tentang menyalakan api

Tapi siapa yang berani membakar kebatilan dengannya

Kami adalah bara dalam sekam.

Apimu tangguh, tapi kami kan berdiri dihadapanmu.

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Crescendo

sepasang mata itu menatapku yang membatu. ia tau sedari tadi aku memperhatikan lambai tangan dan kerlip gaunnya yang abu-abu.

tanganmu yang sesaat lalu melambai. kini menggenggam tanganku yang sedari tadi mati rasa.

“i love you for sentimental reasons” ungkapmu.

Dan kau tambahkan senyum tipis menawan diujung rayuanmu. Senyummu tetap tipis dan teduh, menyungging ruang mimpi dengan warna-warna yang tak terdeskripsi.

entah bagaimana caranya ia memadu langkahku agar padu dengannya. padahal tak ada musik malam ini. mungkin kami sama-sama membunyikan lagu kesukaan kami didalam khayal.

“i hope you do believe me, i’ve given you my heart” ucapmu pelan di telingaku.

tubuhmu kini ada di dekapanku. tapi, entah kenapa pelukmu malam itu terasa dingin.

Dan kemudian kau mengembangkan senyum getir yang amat berbeda dengan senyum-senyum lain yang biasa memukauku.

…..

di dekapanku, kau menyala.

dirimu terbakar oleh sendu

dan tiada bahasa yang dapat mengartikan

tapi sunyi yang dicipta olehmu berderu tanpa henti

ada pacu liar dari jantung hatiku.

kau hanya menyisakan abu yang sedingin salju.