Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini: Continue reading Like A rolling Stone

Advertisements

Ignite

Some say fire is a manifestation of life. then

what would ashes will be?

• • •

Ashes is a consequences of life. if we

bound to not burn anything. then,

we supposed to not having life at all

• • •

Ignite the fire.

And let the ashes that

Scattered in the air

Sparks another fire

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Catatan 21 januari 2013

banyak yang percaya setiap mimpi adalah pertanda, seperti pembatas buku yang kau gunakan untuk menanda ketika kau harus menghirup udara sejenak. tiap detak yang berjentik dari jantung kita, memompa adrenalin yang menghasilkan fantasi. tiap tarikan dan hembusan paru-paru mengisyaratkan kepada otak kita agar melupakan logika.

namun apa maksud dari semua ini? ketika mimpi-mimpimu berisi sesuatu yang sama.

apa organ tubuh kita sudah mulai lelah? atau malah tubuh kita sedang memainkan sebuah sonata?
alih-alih mendengar sebuah orkestra,telingaku hanya mendengar apa yang kau ucapkan kepada ku, suaramu yang khas bergema di kepalaku

tak pernah logis, namun memang
disinilah aku, tubuhku menolak melupakanmu.

(catatan suatu malam muram, 21 januari 2013)

Collective memory

kadang saya bertanya, what does it takes for me to write my own blog?
kenapa perlu ada medium yang menampung pikiran-pikiran saya?

rasanya tak terlalu terdengar mengada-ngada, menurut saya, arus informasi yang begitu cepat lah yang menuntut kita untuk terus berfikir, untuk terus bertanya. tak ada waktu untuk  “menikmati” atau “mengkhidmati” pemikiran kita.
Continue reading Collective memory