Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini: Continue reading Like A rolling Stone

Advertisements

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Collective memory

kadang saya bertanya, what does it takes for me to write my own blog?
kenapa perlu ada medium yang menampung pikiran-pikiran saya?

rasanya tak terlalu terdengar mengada-ngada, menurut saya, arus informasi yang begitu cepat lah yang menuntut kita untuk terus berfikir, untuk terus bertanya. tak ada waktu untuk  “menikmati” atau “mengkhidmati” pemikiran kita.
Continue reading Collective memory