setengah mimpi, setengah dirimu

aku berada di setengah mimpi,

bertemu setengah dirimu.

apakah dirimu, setengah yang lain

terpanggil olehku?

 

setengah aku datang,

sekonyong-konyong, terengah-engah

menyodorkan kilat abu-abu

 

aku tak bisa bereaksi,

karena dirimu, setengah yang datang

tak mendengar pekikan petir abu-abu.

 

setengah dirimu bergumam,

kakiku tersaungkut di sela lamunan,

aku menertawai sekumpulan debu yang kita acuhkan.

 

 

Advertisements

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Yang Kering dan Tak Kembali

Kau berada di tengah ruang pikir orang-orang di tempat ini. walau sebetulnya kau sudah memilih tempat paling pojok di ruangan. mereka tetap mengidentifikasimu sebagai hal paling janggal dalam semesta ruangan ini.

Seakan membaca dengan kening, kau dekapkan buku yang tak berjudul itu di wajahmu, dengan sesekali rokok di tangan kirimu itu kau kecup dengan ceroboh.di ruang ini tak ada yang tau bahwa kau sedang bersembunyi. Tepatnya menyembunyikan sesuatu. Kau sedang menutupi sebaris air mata yang membekas di pipi.

Kalau saja ruangan ini senyap tak bernyawa, kau sudah mengibas-ngibas wajahmu sampai kering. Karena pikirmu air mata kering tak akan bicara apa-apa, dia akan lenyap bila dibiarkan. seperti gerimis di tengah malam.ketika pagi tiba, walau basahnya masih tersisa, ia akan menyaru dengan embun.

Nyatanya, walau pipi sudah tidak basah, sedih itu akan tetap jadi luka. Yang akan mengalirkan pedih tak terperi walau air mata telah kering.

Dengan mata yang sedari tadi ditutupi olehmu, Kau tatap mereka yg memperhatikanmu dengan geram. Mata mu yang merahmembungkam mereka, segala tatap melebur jadi gumam.

Kau lelah tak terkira. Habis sudah enerji mu untuk berkilah.

Dengan air mata yang membatu. kau hujam hatimu yang tinggal sebilah

Itu lah akhir cerita tentang kamu

. . .

Aku? Aku tentu sudah tak ada

Sudah duluan lenyap oleh rasa bersalah.