Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Hujan deras di 15 februari

Hujan deras di 15 februari menyisir orang-orang yang hidup di hari ini untuk menepi. Sedangkan mereka yang lain—orang-orang yang hidup di hari kemarin, menapakkan jejak-jejak besarnya di genangan aspal kota. Tak hanya ditengah jalan, orang-orang tersebut mengisi jongko-jongko warung kopi di tepian—Mereka numpang nonton TV.

Penjaja warung pun bertanya-tanya. Kenapa hari ini warungnya terlihat serba hitam putih?

seperjentikan jari kemudian,Hanya berang yang ia rasakan. Mereka yang ada di jongkonya hanya datang untuk mengisi ruang. Mereka tak memesan atau membeli apa-apa. rasanya memang pasti seperti itu, karena kenangan masa lalu adalah mata uang mereka. Hal yang tidak begitu dihargai oleh penjaja warung yang hidup di hari ini.

Di rumahnya masing-masing, Orang-orang yang hidup di masa depan terbujur di kasurnya. Berselimut  dan berkaus kaki. Memang cuaca seperti ini cocok sekali untuk tidur siang. Di kepala mereka penuh dengan mimpi indah soal masa depan yang mereka harapkan.

Selayaknya orang-orang lain yang hidup di hari ini. penjaja warung pun terpinggirkan, ia kebingungan. Dan ini lah nasib semua orang yang hidup di hari ini, mereka sibuk bertanya-tanya. hal yang paling penting yang ada dikepalanya hanya pertanyaan soal apa yang akan ia tanyakan hari ini

Pada akhirnya dia masih kebingungan dengan ramainya orang di jalanan ibukota.

Sebagian orang yang tadi tertidur mulai bangun.

kenapa ia harus terbangun?

konyol.

Aku sendiri masih tidur lelap di kamarku.

jatuh

dalam gelap aku meraba-raba
letak tubuhku sendiri. aku sedang
mengenal lagi mereka yang
kini hanya membisu.

bertanya lagi.

tapi sunyi tetap jawabnya.
kemudian hela nafas menjadi
spasi yang abadi.

aku sadari, ku tak pernah sebelumnya
menanyakan dimana letak gejolak
yang sedari dulu dikatakan akan menyalak

nyatanya memang,
orang yang sengaja menjatuhkan diri tak
akan merasakan sakit yang sama dengan
orang yang betul-betul terjatuh, walau
mereka sama-sama terluka.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Crescendo

sepasang mata itu menatapku yang membatu. ia tau sedari tadi aku memperhatikan lambai tangan dan kerlip gaunnya yang abu-abu.

tanganmu yang sesaat lalu melambai. kini menggenggam tanganku yang sedari tadi mati rasa.

“i love you for sentimental reasons” ungkapmu.

Dan kau tambahkan senyum tipis menawan diujung rayuanmu. Senyummu tetap tipis dan teduh, menyungging ruang mimpi dengan warna-warna yang tak terdeskripsi.

entah bagaimana caranya ia memadu langkahku agar padu dengannya. padahal tak ada musik malam ini. mungkin kami sama-sama membunyikan lagu kesukaan kami didalam khayal.

“i hope you do believe me, i’ve given you my heart” ucapmu pelan di telingaku.

tubuhmu kini ada di dekapanku. tapi, entah kenapa pelukmu malam itu terasa dingin.

Dan kemudian kau mengembangkan senyum getir yang amat berbeda dengan senyum-senyum lain yang biasa memukauku.

…..

di dekapanku, kau menyala.

dirimu terbakar oleh sendu

dan tiada bahasa yang dapat mengartikan

tapi sunyi yang dicipta olehmu berderu tanpa henti

ada pacu liar dari jantung hatiku.

kau hanya menyisakan abu yang sedingin salju.

Yang Kering dan Tak Kembali

Kau berada di tengah ruang pikir orang-orang di tempat ini. walau sebetulnya kau sudah memilih tempat paling pojok di ruangan. mereka tetap mengidentifikasimu sebagai hal paling janggal dalam semesta ruangan ini.

Seakan membaca dengan kening, kau dekapkan buku yang tak berjudul itu di wajahmu, dengan sesekali rokok di tangan kirimu itu kau kecup dengan ceroboh.di ruang ini tak ada yang tau bahwa kau sedang bersembunyi. Tepatnya menyembunyikan sesuatu. Kau sedang menutupi sebaris air mata yang membekas di pipi.

Kalau saja ruangan ini senyap tak bernyawa, kau sudah mengibas-ngibas wajahmu sampai kering. Karena pikirmu air mata kering tak akan bicara apa-apa, dia akan lenyap bila dibiarkan. seperti gerimis di tengah malam.ketika pagi tiba, walau basahnya masih tersisa, ia akan menyaru dengan embun.

Nyatanya, walau pipi sudah tidak basah, sedih itu akan tetap jadi luka. Yang akan mengalirkan pedih tak terperi walau air mata telah kering.

Dengan mata yang sedari tadi ditutupi olehmu, Kau tatap mereka yg memperhatikanmu dengan geram. Mata mu yang merahmembungkam mereka, segala tatap melebur jadi gumam.

Kau lelah tak terkira. Habis sudah enerji mu untuk berkilah.

Dengan air mata yang membatu. kau hujam hatimu yang tinggal sebilah

Itu lah akhir cerita tentang kamu

. . .

Aku? Aku tentu sudah tak ada

Sudah duluan lenyap oleh rasa bersalah.