Interferensi

Sore itu jalan kolonel masturi dibasahi Hujan yang tidak terlalu deras, tapi bukan gerimis. Kumandang adzan bersaut-sautan,padahal jarak antar masjid hanya berbeda beberapa rumah, mereka seakan berlomba untuk jadi yang paling didengar seantero desa. Suara adzan, suara knalpot motor, suara klakson mobil, suara tukang putu. Semua berinterferensi di pikiran Venka.

Berinterferensi, itu adalah istilah milik Venka, Yang muncul dan terucap olehnya ketika ia mengamati langit tak berlembayung di ujung horizon.

Apa yang berinterferensi? Semuanya. Continue reading Interferensi

Advertisements

Tiga perempat Purnama

Tiga Perempat purnama

Aku berderai pelitamu.

Yang tak padam oleh awan gelap

Tapi redup oleh gemerlap percakapan.

 

Tiga perempat purnama

Menghentikan waktu.

Maktu yang dimengerti oleh tupai

dan manusia.

 

Tiga perempat purnama

Aku teralihkan darimu.

Olehnya yang lebih terang

Dari setiap rembulan

 

tiga perempat purnama

aku lupa diri,

olehnya yang secerah mentari pagi.

Bara Dalam Sekam

Kami adalah bara dalam sekam.

Api yang jadi bahasamu adalah apiku juga.

 

Hengkanglah semua yang terbilang.

Manusia yang tak bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri

Lebih baik enyah tak bersuara!

 

Aku adalah adik, kakak, dan orang tuaku,

Juga kawan, tuan, serta guruku.

Kami tak akan terpecah oleh suaramu!

 

karena keadilan sejatinya selalu buta.

Kamipun akan menutup mata ragawi.

Tataplah kami melalui nurani!

 

keadilan bukan hanya tentang menyalakan api

Tapi siapa yang berani membakar kebatilan dengannya

Kami adalah bara dalam sekam.

Apimu tangguh, tapi kami kan berdiri dihadapanmu.

Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini: Continue reading Like A rolling Stone

Memento Vivere

Cappuccino ku sudah tandas. Tapi belum ada tanda-tanda umur alam ini mencapai batas. Kulihat orang-orang masih lalu lalang mencari meja kosong di bar ini. tampaknya bahwa belum ada mahluk alam ini—terutama manusia—yang merasakan pertanda akhir jaman. mungkin aku seharusnya lebih santai menghadapi pemikiran soal hari akhir. Yang lebih mendesak adalah alasan mengapa orang-orang yang lalu lalang tadi menatapku dan cangkirku dengan pandangan yang tidak enak.

Yes, the bar served coffee, dan menurutku kopi mereka lebih enak dibanding liquornya.

Kenapa aku minum kopi di bar? i’ve always been a coffee guy. Tentu seperti orang lain, aku melewati masa-masa minum susu terlebih dahulu. Tapi rasanya coffee is in my blood, as my parents both drinking coffee. Aku tak tahu sejak kapan mereka minum kopi. entah sama seperti aku yang minum kopi selepas lulus dari susu, Atau mereka pada awalnya minum minuman lain sebelum menemukan dirinya di kopi. but as much as memory goes, yang aku ingat mereka Cuma minum kopi.

Continue reading Memento Vivere

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.