Memento Vivere

Cappuccino ku sudah tandas. Tapi belum ada tanda-tanda umur alam ini mencapai batas. Kulihat orang-orang masih lalu lalang mencari meja kosong di bar ini. tampaknya bahwa belum ada mahluk alam ini—terutama manusia—yang merasakan pertanda akhir jaman. mungkin aku seharusnya lebih santai menghadapi pemikiran soal hari akhir. Yang lebih mendesak adalah alasan mengapa orang-orang yang lalu lalang tadi menatapku dan cangkirku dengan pandangan yang tidak enak.

Yes, the bar served coffee, dan menurutku kopi mereka lebih enak dibanding liquornya.

Kenapa aku minum kopi di bar? i’ve always been a coffee guy. Tentu seperti orang lain, aku melewati masa-masa minum susu terlebih dahulu. Tapi rasanya coffee is in my blood, as my parents both drinking coffee. Aku tak tahu sejak kapan mereka minum kopi. entah sama seperti aku yang minum kopi selepas lulus dari susu, Atau mereka pada awalnya minum minuman lain sebelum menemukan dirinya di kopi. but as much as memory goes, yang aku ingat mereka Cuma minum kopi.

Continue reading Memento Vivere

Advertisements

Rongga Ingatan

Kaki-kaki langkah. Jengkal-jengkal jemari

Diseret pergi oleh rongga besi terangkai

yang membentang dari ujung ke ujung.

Dari rumah hingga ke tujuan.

 

kereta membawamu pergi. Bersama

ingatan tentang ibu kota. Tak butuh

banyak waktu untuk membuatmu terlupa

 

kemanakah ingatanmu diseret pergi?

dimanakah ku bisa menjemputnya kembali?

Dan kamu. Siapakah kamu tanpa ingatanmu?

 

tak terhitung jumlah pertanyaan yang hadir. Ketika

aku menunggu kereta selanjutnya

di peron yang sama.

Hujan deras di 15 februari

Hujan deras di 15 februari menyisir orang-orang yang hidup di hari ini untuk menepi. Sedangkan mereka yang lain—orang-orang yang hidup di hari kemarin, menapakkan jejak-jejak besarnya di genangan aspal kota. Tak hanya ditengah jalan, orang-orang tersebut mengisi jongko-jongko warung kopi di tepian—Mereka numpang nonton TV.

Penjaja warung pun bertanya-tanya. Kenapa hari ini warungnya terlihat serba hitam putih?

seperjentikan jari kemudian,Hanya berang yang ia rasakan. Mereka yang ada di jongkonya hanya datang untuk mengisi ruang. Mereka tak memesan atau membeli apa-apa. rasanya memang pasti seperti itu, karena kenangan masa lalu adalah mata uang mereka. Hal yang tidak begitu dihargai oleh penjaja warung yang hidup di hari ini.

Di rumahnya masing-masing, Orang-orang yang hidup di masa depan terbujur di kasurnya. Berselimut  dan berkaus kaki. Memang cuaca seperti ini cocok sekali untuk tidur siang. Di kepala mereka penuh dengan mimpi indah soal masa depan yang mereka harapkan.

Selayaknya orang-orang lain yang hidup di hari ini. penjaja warung pun terpinggirkan, ia kebingungan. Dan ini lah nasib semua orang yang hidup di hari ini, mereka sibuk bertanya-tanya. hal yang paling penting yang ada dikepalanya hanya pertanyaan soal apa yang akan ia tanyakan hari ini

Pada akhirnya dia masih kebingungan dengan ramainya orang di jalanan ibukota.

Sebagian orang yang tadi tertidur mulai bangun.

kenapa ia harus terbangun?

konyol.

Aku sendiri masih tidur lelap di kamarku.

jatuh

dalam gelap aku meraba-raba
letak tubuhku sendiri. aku sedang
mengenal lagi mereka yang
kini hanya membisu.

bertanya lagi.

tapi sunyi tetap jawabnya.
kemudian hela nafas menjadi
spasi yang abadi.

aku sadari, ku tak pernah sebelumnya
menanyakan dimana letak gejolak
yang sedari dulu dikatakan akan menyalak

nyatanya memang,
orang yang sengaja menjatuhkan diri tak
akan merasakan sakit yang sama dengan
orang yang betul-betul terjatuh, walau
mereka sama-sama terluka.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Crescendo

sepasang mata itu menatapku yang membatu. ia tau sedari tadi aku memperhatikan lambai tangan dan kerlip gaunnya yang abu-abu.

tanganmu yang sesaat lalu melambai. kini menggenggam tanganku yang sedari tadi mati rasa.

“i love you for sentimental reasons” ungkapmu.

Dan kau tambahkan senyum tipis menawan diujung rayuanmu. Senyummu tetap tipis dan teduh, menyungging ruang mimpi dengan warna-warna yang tak terdeskripsi.

entah bagaimana caranya ia memadu langkahku agar padu dengannya. padahal tak ada musik malam ini. mungkin kami sama-sama membunyikan lagu kesukaan kami didalam khayal.

“i hope you do believe me, i’ve given you my heart” ucapmu pelan di telingaku.

tubuhmu kini ada di dekapanku. tapi, entah kenapa pelukmu malam itu terasa dingin.

Dan kemudian kau mengembangkan senyum getir yang amat berbeda dengan senyum-senyum lain yang biasa memukauku.

…..

di dekapanku, kau menyala.

dirimu terbakar oleh sendu

dan tiada bahasa yang dapat mengartikan

tapi sunyi yang dicipta olehmu berderu tanpa henti

ada pacu liar dari jantung hatiku.

kau hanya menyisakan abu yang sedingin salju.