Melangkah Bersamamu

ku bicara kepada langit untukmu.

Dibawah sinar rembulan,

Juga mega-mega yang terharu-tersipu

Menonton kita menari-nari,

Saling cumbu dalam bayang antara bumi dan kartika

 

Malam itu,hanya ada kamu

Tersenyum dan tersipu

 

Seketika, rembulan pun tau,

Sesungguhnya dimalam itu juga,

diriku seutuhnya,

Melangkah bersamamu.

Advertisements

Jika Waktu

Jika waktu kan’ berhenti untukku

Kurekahkan mimpi, hingga wanginya mengisi

Keluar, hingga pori-pori pikiranku

 

Kepadanya pencari terang

Yang telah menghisap habis ceritaku

 

Aku kini berlari

Ku berdiri lagi, walau tak kembali

Melesatkan nyawa yang terhenti

Hingga kaki-kaki itu bergumam kembali

 

Cerita, gempita, dan derita

Kan tercetak kembali.

Dari abu yang tercetak oleh api

Untuk api yang terpercik lagi.

Untuk cerita yang tak mencekik janji.

 

merangkak di kanal cahaya

dunia dalam tatanan bit and byte perlahan menyeruak ke kehidupan nyata manusia. perlahan kesadaran kita dipecah dan dicacah.

pertanyaan mengenai mana yang nyata, mana yang maya sudah sewajarnya tak diacuhkan. karena kita sudah semakin sulit membedakan mana yang biner dan mana yang abu-abu.

secarik kertas kini semakin sulit untuk bicara banyak. pilihan selalu hadir dan tak terhindarkan, berada di region yang terasa sama-sama artifisial.

lalu mana yang esensial? kita semakin buta prioritas. lifestyle dan tatanan sosial melaju bersama kehidupan di dunia digital. semua tidak menyisakan ruang untuk merenungkan seberapa besar kita dibuat delusi—delusi kebijaksanaan.

kini kita mengurai sinyal melalui panca indra. dimana bias-bias numerik mempengaruhi cara kita mengecap hidup.

data bergerak indah, melenggok di kanal cahaya.
kita masih merangkak lupa budaya.

 

Hujan Datang Sebagai Bahasa

Untuk perempuan yang menggunakan hujan sebagai bahasa. Beritahu aku, Kemana kau larutkan lara?

Kulihat hujan seakan bicara kepadamu melalui teduh yang ia bawa. kau tatap ia melalui tepi-tepi jendela, dibalik teralis dan kelambu. Lama kelamaan, Kau yang memang tak pernah ragu, dibuatnya larut dalam candu.

Dari caramu membisikan hujan, aku tau kau berujar untuk tak didengar. Kau rayakan cinta dan cerita kala hujan berbicara. Dan kau dibuat girang karenanya.

Tetapi selayaknya cinta. Ia tak perlu datang tiap saat untuk dihargai. Ia kan pergi dan kembali. Kadang dapat di prediksi, kadang tak peduli. dan juga lara tak perlu dihapus tiap kali ia mengental. nestapa tak perlu dientas kan oleh awan gelap.

Mari menunggu terang. Agar hujan kan selalu bisa dinikmati. Dan aku dapat mengertimu dalam bahasamu

setengah mimpi, setengah dirimu

aku berada di setengah mimpi,

bertemu setengah dirimu.

apakah dirimu, setengah yang lain

terpanggil olehku?

 

setengah aku datang,

sekonyong-konyong, terengah-engah

menyodorkan kilat abu-abu

 

aku tak bisa bereaksi,

karena dirimu, setengah yang datang

tak mendengar pekikan petir abu-abu.

 

setengah dirimu bergumam,

kakiku tersaungkut di sela lamunan,

aku menertawai sekumpulan debu yang kita acuhkan.

 

 

Interferensi

Sore itu jalan kolonel masturi dibasahi Hujan yang tidak terlalu deras, tapi bukan gerimis. Kumandang adzan bersaut-sautan,padahal jarak antar masjid hanya berbeda beberapa rumah, mereka seakan berlomba untuk jadi yang paling didengar seantero desa. Suara adzan, suara knalpot motor, suara klakson mobil, suara tukang putu. Semua berinterferensi di pikiran Venka.

Berinterferensi, itu adalah istilah milik Venka, Yang muncul dan terucap olehnya ketika ia mengamati langit tak berlembayung di ujung horizon.

Apa yang berinterferensi? Semuanya. Continue reading Interferensi

Tiga perempat Purnama

Tiga Perempat purnama

Aku berderai pelitamu.

Yang tak padam oleh awan gelap

Tapi redup oleh gemerlap percakapan.

 

Tiga perempat purnama

Menghentikan waktu.

Maktu yang dimengerti oleh tupai

dan manusia.

 

Tiga perempat purnama

Aku teralihkan darimu.

Olehnya yang lebih terang

Dari setiap rembulan

 

tiga perempat purnama

aku lupa diri,

olehnya yang secerah mentari pagi.