seonggok malam

hari ini kupungut malam dari tidurku

‘tuk merupa gelap yang mengganggu.

merangkul isyarat yang tak terbaca

oleh diriku sendiri yang menerka.

 

tak ada yang tau pasti, mengenai

apa yang dikehendaki jiwa-jiwa yang sepi

nyatanya, seperti sigaret yang membara

hidup akan semakin habis, mau dibiarkan

atau dihela.

 

• • • • • • •

 

keparat yang menempel di paru-paru

dan kerak di sepatu

selalu mengingatkanku mengenai ia yang

sibuk menjemput mati, kuingat

cerita yang tak ada lagi

 

ini bukan cerita seseorang yang tak mau lagi,

ini tentang hidup yang tak bisa kembali.

 

yang kembali hanya sepi,

mengapit hidup diantara dua janji

yang kemudian hilang dan

terbilang lagi

Advertisements

Senjakala Fase Mahasiswa

 

Jerit pelan terdengar di telingaku

Soal gagahnya pendahulu-pendahulu

Yang dulu mahasiswa.

 

Bagaimana gagasan mereka

Diusung hingga meja penguasa

Juga, lantang teriakan mereka

Masih terdengar 2 dasawarsa

 

Senjakala fase mahasiswa

 

Aku terpikat tuk lari leluasa

Nyatanya, dari subuh terikat puasa

Jadi sekumpulan yang sama tak perkasa

 

Terbit jadi manusia biasa,

Pendahulu yang kini jadi penghulu

Apakah mereka seperti aku?

 

Ada bayang kelam dibalik gagahnya masa muda

Soal manusia yang melepas umur tuk jadi dewasa

menjadi berbeda, dan bahasa gelisah yang mempengaruhinya

Ada rangkaian dan untaian yang sukar terbaca dalam hikayat tak tertulis—tapi dapat dibaca layaknya kitab—dari hidup seorang manusia yang tinggal di tanah air. Kurasa ada kesamaan dari kebanyakan orang yang hidup hari ini, itu merupakan keinginan untuk menjadi berbeda dari orang lain

Ada apa dengan keinginan untuk berbeda? Apakah ia serupa dengan keinginan tuk tak sama?

Ada keinginan besar untuk menjadi tak lazim, hal ini melekat pada diri kita seakan memang tercetak dalam dna kita. Menjadi tak biasa, seperti dia. Menjadi melenceng, seperti orang itu. Juga menjadi bengkok atau tengkurap, seperti orang-orang lainnya.

Frasa “seperti” menjadi bagian hidup cerita soal mimpi-mimpi menjadi berbeda, baik dalam bentuk pro selayaknya ilustrasi tadi. Atau kontra, menjadi “tak seperti”. “seperti” merupakan Sebuah kata padanan yang berarti serupa, atau menjadi sama. Lalu bagaimana ide soal menjadi sama menjadi dorongan untuk haus akan menjadi berbeda?

Mau tak mau, ide selalu menjalar dan merambat tanpa kita selalu dapat kendalikan. Tersibak dalam semiotika, Banyak cara sebuah ide ditransformasikan menjadi bentuk lain, tuk kemudian di transmisikan dan di tangkap dalam bentuk lain pula. Seperti mengenai cerita mengenai marlboro man “membisikan” keinginan kuat untuk merokok tanpa “mengiklankan” rokok itu sendiri. Ide bertransformasi,bertransmisi,dan diterima tanpa harus berbentuk ide pokok itu sendiri dikepala kita.

Tentu, terkadang ide yang menjalar tidak selalu berbentuk konkrit untuk dijelaskan. Apalagi dengan bahasan non ilmiah, dan obrolan warung kopi seperti ini. singkatnya, yang akan dibahas disini adalah salah satu bahasa yang bisa terbaca tapi tak perlu tertulis; bahasa kegelisahan.

Entah ini adalah konspirasi dari media kapitalis, atau sekedar hegemoni dari orang-orang yang menginspirasi. tetapi gelisah adalah bahasa universal yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orang tanpa harus banyak menuangkan pikiran didalamnya. Bahkan emosi positif pun bisa memicu kegelisahan masyarakat kebanyakan.

Seperti cerita inspiratif yang membentuk keinginan tuk berubah, ditambah kegelisahan untuk menjadi stagnan. Juga cerita soal lepas dari belenggu, yang mendorong keinginan untuk mencari kebebasan, sekaligus gelisah dengan keadaan yang sedang dijalani.

Tentu, hal diatas masih menghasilkan “kegelisahan positif” yang mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik. Tetapi hari ini, kegelisahan positif tersebut tampaknya telah menjadi komoditas, yang dicari dan kemudian dijual di khalayak ramai. Orang-orang mencari dosis dari inspirasi, untuk mengisi sakau kegelisahan untuk merasa lebih baik. Dalam candu yang dimasifkan oleh media sosial, orang-orang bertransformasi untuk memecah rasa nyaman, dan kemudian menyebarkan kepuasannya untuk rasa puas menginspirasi orang banyak.

Media sosial kemudian menjadi alat untuk mencari, dan menjual perasaan gelisah secara kolektif

kolektif dari rasa gelisah menghasilkan rasa ketertinggalan. Takut untuk tertinggal dari orang lain, gerakan masif yang juga diciptakan rasa takut kekurangan dosis gelisah menjadi terus dinamis bergerak di lini masa sosial media. Yang populer di sebut “fear of missing out”

fear of missing out ini lah yang mengkonstruksi perasaan harus untuk berbeda dan tak lazim, untuk mengisi rasa yang dikuras oleh perasaan gelisah. Bayangkan alur nya seperti ini. seseorang sukses menceritakan bahwa ia harus berubah dan menjadi beda sebelum mendapat pencapaian dia saat ini. menciptakan rasa gelisah bahwa orang tak akan sukses bila ia tidak berubah. ide tersebut teramplifikasi secara masif melalui sharing di media sosial. Kemudian konteks “menjadi berubah” bergeser untuk menjadi “berbeda”. semua orang merasa perlu untuk berbeda, hasil hegemoni sosial menciptakan pemikiran: bila ia tidak berbeda, ia akan tertinggal. Dan bila ia tertinggal ia tidak akan sukses menjalani hidup—seperti ide awal sebelum bertransformasi.

Sampai kapan keinginan untuk berbeda menjadi dorongan utama agar tidak tertinggal? Saya pun tidak tau. Amat menarik bagaimana kegelisahan menciptakan frasa mengenai perbedaan menjadi fenomena akan takut dari ketidaksamaan.

 

 

Dan, Tunggu.

Kemana angin berhembus di kala

Malam yang ditunggu dan ditunda telah tiba?

Apakah kan kembali ke selatan?

 

Di kala dahlia berakhir,

Dan rembulan tercetak besar di atas kepala

Ada seutas tali yang menunggu

Yang telah terputus tapi tak berhenti menghunus

Rindu yang kini makin dekat ke ubun-ubun

 

“Dan, tunggu. Dan, tunggu

Tunggu hingga angin kan membawaku.

Tiada guna terburu-buru.

Angin tak akan lupa kemana ia harus berhembus.”

Itulah ucapnya untukku yang merindu.

 

sang pencari

Kerap kali dimalam yang dingin.

Ada bayangan yang hendak mencari-cari,

Yang menerka-nerka.

Apa yang ada di benak orang-orang dibalik selimut

di malam tenang tanpa derau.

 

Aku, adalah yang terjaga.

Menjaga asa yang tak bisa padam,

Meski terlena untuk menyusup masuk kedalam,

lalu lelap seperti dulu lagi.

 

Sang pencari tiba di depan pintu kamarku.

Bertanya, Apa yang dilakukan oleh pujangga dimalam sepi?

Ia tidak menulis syair

Walau rindu telah melebihi batas yang dapat

Disimpan dalam hati.

 

“hey, ini malam tanpa derau, terlelaplah..”

Aku  menggeleng pelan

“lalu, tulislah apa yang bisa kau tulis”

Aku termenung.

Sang pencari bingung.

 

Aku terpikat oleh rindu.

Yang cintanya meracik cintaku

Dan benci nya menutup inginku.

Hingga nafas yang ku hirup

Adalah hela nafasnya yang kerap hidup

Dalam belenggu yang tak ia kenali.

 

ku bernafas dalam belenggu,

Yang menarik kaki-tanganku,

Oleh tangan-kakimu sendiri.

 

Dan melulu aku tersipu.

Oleh tangan halus yang meraba haru

Kemudian aku tersapu

Oleh pikirmu yang merampas kalbu

 

Sang pencari pergi,

Aku kembali sendiri.

Gajah Sebatang Kara

apa yang diketahui seekor gajah sebatang kara?

apakah ia tau bahwa ia tak hidup sendiri?

ada kawanannya di ujung jalan

sayang, fakta tak kan pernah jadi nyata

bila ia tak pernah menyebrang.

 

apa yang diketahui seekor gajah sebatang kara?

tahukah ia tak kan bisa melompat?

sekuat apapun ia berusaha mengimitasi tupai

kakinya akan terus mencengkeram tanah.

 

apa yang diingat seekor gajah sebatang kara?

semuanya.

semua pertanyaan yang terlontar,

semua kekaguman yang menghantar.

semua teringat, lalu sia-sia.

karena jawaban tak pernah mengantar.

Telaga tak berjelaga

Perahu abu-abu menepi, bersandar ia pada dermaga berwarna jingga.

Kaki-kaki kecil berlari menyusuri tepi-tepi telaga. Pemilik perahu itu tak lebih dari seorang anak perempuan di masa kanaknya.

Tapi tak kuranglah dia dibanding sebaya. Walau sebagian tak sedaya. Ia tetap sama cepat berlari, sama rendah merangkak, atau sama tinggi melompat. Tetap bisa semau-maunya, sepuas-puasnya.

Dan bayangan belasan tahun lalu, adalah bagian dari kesehariannya. Ia hadir bersama waktu yang terus bergulir. Kaki-kakinya yang dewasa tak pernah ingin berhenti berlari, masih semau-maunya, sepuas-puasnya

Telaga ini tak pernah berjelaga.

Hingga kaki-kaki itu tak memiliki raga, telaga ini tak akan pernah lupa untuk menyala.

Untuk mu yang selalu bisa kalahkan lara.