Dan, Tunggu.

Kemana angin berhembus di kala

Malam yang ditunggu dan ditunda telah tiba?

Apakah kan kembali ke selatan?

 

Di kala dahlia berakhir,

Dan rembulan tercetak besar di atas kepala

Ada seutas tali yang menunggu

Yang telah terputus tapi tak berhenti menghunus

Rindu yang kini makin dekat ke ubun-ubun

 

“Dan, tunggu. Dan, tunggu

Tunggu hingga angin kan membawaku.

Tiada guna terburu-buru.

Angin tak akan lupa kemana ia harus berhembus.”

Itulah ucapnya untukku yang merindu.

 

Advertisements

sang pencari

Kerap kali dimalam yang dingin.

Ada bayangan yang hendak mencari-cari,

Yang menerka-nerka.

Apa yang ada di benak orang-orang dibalik selimut

di malam tenang tanpa derau.

 

Aku, adalah yang terjaga.

Menjaga asa yang tak bisa padam,

Meski terlena untuk menyusup masuk kedalam,

lalu lelap seperti dulu lagi.

 

Sang pencari tiba di depan pintu kamarku.

Bertanya, Apa yang dilakukan oleh pujangga dimalam sepi?

Ia tidak menulis syair

Walau rindu telah melebihi batas yang dapat

Disimpan dalam hati.

 

“hey, ini malam tanpa derau, terlelaplah..”

Aku  menggeleng pelan

“lalu, tulislah apa yang bisa kau tulis”

Aku termenung.

Sang pencari bingung.

 

Aku terpikat oleh rindu.

Yang cintanya meracik cintaku

Dan benci nya menutup inginku.

Hingga nafas yang ku hirup

Adalah hela nafasnya yang kerap hidup

Dalam belenggu yang tak ia kenali.

 

ku bernafas dalam belenggu,

Yang menarik kaki-tanganku,

Oleh tangan-kakimu sendiri.

 

Dan melulu aku tersipu.

Oleh tangan halus yang meraba haru

Kemudian aku tersapu

Oleh pikirmu yang merampas kalbu

 

Sang pencari pergi,

Aku kembali sendiri.

Gajah Sebatang Kara

apa yang diketahui seekor gajah sebatang kara?

apakah ia tau bahwa ia tak hidup sendiri?

ada kawanannya di ujung jalan

sayang, fakta tak kan pernah jadi nyata

bila ia tak pernah menyebrang.

 

apa yang diketahui seekor gajah sebatang kara?

tahukah ia tak kan bisa melompat?

sekuat apapun ia berusaha mengimitasi tupai

kakinya akan terus mencengkeram tanah.

 

apa yang diingat seekor gajah sebatang kara?

semuanya.

semua pertanyaan yang terlontar,

semua kekaguman yang menghantar.

semua teringat, lalu sia-sia.

karena jawaban tak pernah mengantar.

Telaga tak berjelaga

Perahu abu-abu menepi, bersandar ia pada dermaga berwarna jingga.

Kaki-kaki kecil berlari menyusuri tepi-tepi telaga. Pemilik perahu itu tak lebih dari seorang anak perempuan di masa kanaknya.

Tapi tak kuranglah dia dibanding sebaya. Walau sebagian tak sedaya. Ia tetap sama cepat berlari, sama rendah merangkak, atau sama tinggi melompat. Tetap bisa semau-maunya, sepuas-puasnya.

Dan bayangan belasan tahun lalu, adalah bagian dari kesehariannya. Ia hadir bersama waktu yang terus bergulir. Kaki-kakinya yang dewasa tak pernah ingin berhenti berlari, masih semau-maunya, sepuas-puasnya

Telaga ini tak pernah berjelaga.

Hingga kaki-kaki itu tak memiliki raga, telaga ini tak akan pernah lupa untuk menyala.

Untuk mu yang selalu bisa kalahkan lara.

happy birthday Rena 
9/9/17

 

Moksa

aku tak bisa kemana-mana.
Kelana mu menutup pintu tuk pergi bersamamu

ruang untuk merana tersisa untuk semua yang tak sia-sia

Hey, pasang kembali pelanamu!
Kau harus pulang sebelum pasang! ucapku
Tapi kau tak mendengarnya.

Kau girang oleh ujung-ujung ombak yang menggulung
dan kecipak air yang meraung.

Dari jauh aku mencipta rasa dalam rana
yang berbayang dan tak beraturan.

Kau jadi bayangan tanpa suara

Disaat kaki terikat oleh tali terbuat dari pikat,
dengan keras aku teriak menuju moksa.

Memento Vivere

Cappuccino ku sudah tandas. Tapi belum ada tanda-tanda umur alam ini mencapai batas. Kulihat orang-orang masih lalu lalang mencari meja kosong di bar ini. tampaknya bahwa belum ada mahluk alam ini—terutama manusia—yang merasakan pertanda akhir jaman. mungkin aku seharusnya lebih santai menghadapi pemikiran soal hari akhir. Yang lebih mendesak adalah alasan mengapa orang-orang yang lalu lalang tadi menatapku dan cangkirku dengan pandangan yang tidak enak.

Yes, the bar served coffee, dan menurutku kopi mereka lebih enak dibanding liquornya.

Kenapa aku minum kopi di bar? i’ve always been a coffee guy. Tentu seperti orang lain, aku melewati masa-masa minum susu terlebih dahulu. Tapi rasanya coffee is in my blood, as my parents both drinking coffee. Aku tak tahu sejak kapan mereka minum kopi. entah sama seperti aku yang minum kopi selepas lulus dari susu, Atau mereka pada awalnya minum minuman lain sebelum menemukan dirinya di kopi. but as much as memory goes, yang aku ingat mereka Cuma minum kopi.

Continue reading Memento Vivere

Hujan deras di 15 februari

Hujan deras di 15 februari menyisir orang-orang yang hidup di hari ini untuk menepi. Sedangkan mereka yang lain—orang-orang yang hidup di hari kemarin, menapakkan jejak-jejak besarnya di genangan aspal kota. Tak hanya ditengah jalan, orang-orang tersebut mengisi jongko-jongko warung kopi di tepian—Mereka numpang nonton TV.

Penjaja warung pun bertanya-tanya. Kenapa hari ini warungnya terlihat serba hitam putih?

seperjentikan jari kemudian,Hanya berang yang ia rasakan. Mereka yang ada di jongkonya hanya datang untuk mengisi ruang. Mereka tak memesan atau membeli apa-apa. rasanya memang pasti seperti itu, karena kenangan masa lalu adalah mata uang mereka. Hal yang tidak begitu dihargai oleh penjaja warung yang hidup di hari ini.

Di rumahnya masing-masing, Orang-orang yang hidup di masa depan terbujur di kasurnya. Berselimut  dan berkaus kaki. Memang cuaca seperti ini cocok sekali untuk tidur siang. Di kepala mereka penuh dengan mimpi indah soal masa depan yang mereka harapkan.

Selayaknya orang-orang lain yang hidup di hari ini. penjaja warung pun terpinggirkan, ia kebingungan. Dan ini lah nasib semua orang yang hidup di hari ini, mereka sibuk bertanya-tanya. hal yang paling penting yang ada dikepalanya hanya pertanyaan soal apa yang akan ia tanyakan hari ini

Pada akhirnya dia masih kebingungan dengan ramainya orang di jalanan ibukota.

Sebagian orang yang tadi tertidur mulai bangun.

kenapa ia harus terbangun?

konyol.

Aku sendiri masih tidur lelap di kamarku.