Telaga tak berjelaga

Perahu abu-abu menepi, bersandar ia pada dermaga berwarna jingga.

Kaki-kaki kecil berlari menyusuri tepi-tepi telaga. Pemilik perahu itu tak lebih dari seorang anak perempuan di masa kanaknya.

Tapi tak kuranglah dia dibanding sebaya. Walau sebagian tak sedaya. Ia tetap sama cepat berlari, sama rendah merangkak, atau sama tinggi melompat. Tetap bisa semau-maunya, sepuas-puasnya.

Dan bayangan belasan tahun lalu, adalah bagian dari kesehariannya. Ia hadir bersama waktu yang terus bergulir. Kaki-kakinya yang dewasa tak pernah ingin berhenti berlari, masih semau-maunya, sepuas-puasnya

Telaga ini tak pernah berjelaga.

Hingga kaki-kaki itu tak memiliki raga, telaga ini tak akan pernah lupa untuk menyala.

Untuk mu yang selalu bisa kalahkan lara.

happy birthday Rena 
9/9/17

 

Advertisements

Moksa

aku tak bisa kemana-mana.
Kelana mu menutup pintu tuk pergi bersamamu

ruang untuk merana tersisa untuk semua yang tak sia-sia

Hey, pasang kembali pelanamu!
Kau harus pulang sebelum pasang! ucapku
Tapi kau tak mendengarnya.

Kau girang oleh ujung-ujung ombak yang menggulung
dan kecipak air yang meraung.

Dari jauh aku mencipta rasa dalam rana
yang berbayang dan tak beraturan.

Kau jadi bayangan tanpa suara

Disaat kaki terikat oleh tali terbuat dari pikat,
dengan keras aku teriak menuju moksa.

Memento Vivere

Cappuccino ku sudah tandas. Tapi belum ada tanda-tanda umur alam ini mencapai batas. Kulihat orang-orang masih lalu lalang mencari meja kosong di bar ini. tampaknya bahwa belum ada mahluk alam ini—terutama manusia—yang merasakan pertanda akhir jaman. mungkin aku seharusnya lebih santai menghadapi pemikiran soal hari akhir. Yang lebih mendesak adalah alasan mengapa orang-orang yang lalu lalang tadi menatapku dan cangkirku dengan pandangan yang tidak enak.

Yes, the bar served coffee, dan menurutku kopi mereka lebih enak dibanding liquornya.

Kenapa aku minum kopi di bar? i’ve always been a coffee guy. Tentu seperti orang lain, aku melewati masa-masa minum susu terlebih dahulu. Tapi rasanya coffee is in my blood, as my parents both drinking coffee. Aku tak tahu sejak kapan mereka minum kopi. entah sama seperti aku yang minum kopi selepas lulus dari susu, Atau mereka pada awalnya minum minuman lain sebelum menemukan dirinya di kopi. but as much as memory goes, yang aku ingat mereka Cuma minum kopi.

Continue reading Memento Vivere

Hujan deras di 15 februari

Hujan deras di 15 februari menyisir orang-orang yang hidup di hari ini untuk menepi. Sedangkan mereka yang lain—orang-orang yang hidup di hari kemarin, menapakkan jejak-jejak besarnya di genangan aspal kota. Tak hanya ditengah jalan, orang-orang tersebut mengisi jongko-jongko warung kopi di tepian—Mereka numpang nonton TV.

Penjaja warung pun bertanya-tanya. Kenapa hari ini warungnya terlihat serba hitam putih?

seperjentikan jari kemudian,Hanya berang yang ia rasakan. Mereka yang ada di jongkonya hanya datang untuk mengisi ruang. Mereka tak memesan atau membeli apa-apa. rasanya memang pasti seperti itu, karena kenangan masa lalu adalah mata uang mereka. Hal yang tidak begitu dihargai oleh penjaja warung yang hidup di hari ini.

Di rumahnya masing-masing, Orang-orang yang hidup di masa depan terbujur di kasurnya. Berselimut  dan berkaus kaki. Memang cuaca seperti ini cocok sekali untuk tidur siang. Di kepala mereka penuh dengan mimpi indah soal masa depan yang mereka harapkan.

Selayaknya orang-orang lain yang hidup di hari ini. penjaja warung pun terpinggirkan, ia kebingungan. Dan ini lah nasib semua orang yang hidup di hari ini, mereka sibuk bertanya-tanya. hal yang paling penting yang ada dikepalanya hanya pertanyaan soal apa yang akan ia tanyakan hari ini

Pada akhirnya dia masih kebingungan dengan ramainya orang di jalanan ibukota.

Sebagian orang yang tadi tertidur mulai bangun.

kenapa ia harus terbangun?

konyol.

Aku sendiri masih tidur lelap di kamarku.

Agni

Lamat-lamat api yang daritadi kupicu,
menelan ujung-ujung ranting dan daun kering.
api yang awalnya sebesar mancis, kini sudah
tak akan padam walau diterpa angin malam.

Daun-daun segar di pohon bergemerincing.
mereka berbisik, bertanya, hingga berseru:
Sampai kapan kau akan menyala?

Sementara alam bergemetar,
aku merasa jadi manusia paling tegar.
aku memeluk hangatnya tanpa takut terbakar.

Tapi api itu sedari tadi kamu.
yang kupeluk dalam pilu.

aku lupa,
api tak hanya menghangatkan
ia juga menghabiskan.
aku untukmu adalah perasaan semu
Yang ikut terbakar jadi abu.

Flight Love

Tiap kata bersambut yang saling dibisikan angin
Tersemat dalam sebuah jurnal perjalanan sore ini
Bagaimana sebuah agenda perjalanan, hitungan jarak, carikan flight plan
membuat semua rasa mengganda

Ketika jarak bisa membuat kita jatuh cinta pada hal kecil
lalu membuat kita merasa hanya jarak yang membuat kita tak berjumpa
Bagaimana kita bisa menahannya?

This is a flight love baby, you can feel it by the wind
or the scale of range, and even by thermal difference

Is this a fake love baby
But i can feel it by my skin and on my sleepless drought
the range of our sight slightly increased till the end of skyline

Conveying the truth

In 18th centuries,before the birth of photography. It’s hard to tell whether something is true or it didnt. People relying writings and mouth to mouth story to spread the news and idea. The closest thing that can visually represent something important like history were some sort of fine arts like painting or sculpture.

The idea of photography were sounds like a magic. No one seems to believe that people would start competing for a bizare and surreal idea of how to freeze the time and put it into a more solid medium in the future. Thus the discovery of first practical photography process, Daguerrotype by Louis Daguere  ended the myth Continue reading Conveying the truth