Like A rolling Stone

Bandung menjadi kota tempat berkumpulnya cahaya. Sebuah perspektif yang seakan dibangun oleh pemerintah kota dengan menanam penerangan jalan umum berdempetan di jalanan dago malam hari. Tiap lampu jalan yang kulewati seakan menjadi deretan kilat yang tidak habis-habis. Aku jadi ingat film lama yang aku tonton kmarin sore. Bisakah bilas cahaya ini membasuh ingatanku? Kalau memang bisa, Rasanya kurang lebih akan seperti ini:

lampu pertama terlewati.

Aku melupakan arah tujuanku

lampu kedua.

Aku lupa titik awal berangkatku

lampu ketiga.

Aku lupa tentang siapa diriku sebenarnya

Hanya tiga kilat yang akan relevan malam ini. karena kilat-kilat selanjutnya hanya akan menghapus hal yang sama berulangkali:

Aku melupakan diam yang diciptakan sendiri oleh kami—Aku, dan perempuan di kursi penumpang mobilku.

µ

malam itu adalah Billie Holiday’s night—dimainkan oleh band yang berisikan vokalis, drummer, pianis, dan saxofonis—Di restoran yang sudah kureservasi satu bulan yang lalu. Perempuan itu masih asik memperhatikan mereka sembari memainkan buah cherry di mangkuk eskrimnya. Sedangkan di seberang perempuan itu, aku sibuk menulis kata-kata di keningku sendiri.

Rasanya keringatku seperti mengeras, menggumpal dan mengkristal. Semua terasa asin di lidahku—tentu dia tak akan merasakannya.  Tak hanya keringat yang mengkristal di malam itu. Word-processing di kepalaku juga sepertinya mengalami hal yang sama. kata-kata yang aku siapkan matang-matang sebelum berangkat seakan terlupa begitu saja. aku harus menulis ulang kata-kata tersebut. Aku harus mengucapkan selamat tinggal hari ini. kalau tidak, …

Apa yang terjadi kalau aku tidak ucapkan? Tentu hal buruk akan terjadi.

menjelang kami menandaskan hidangan penutup kami. Aku terlebih dahulu menutup hubungan kami. Aku sempat berharap kata-kata yang aku tulis ulang sebelum ku ucap tidak ada yang akan menyakiti perasaannya.

Pada ujungnya aku tetaplah menyakiti perasaannya. That’s the point of a goodbye, isn’t it?

µ

Ada sebuah perbincangan dalam diam. Diluar dari cangkang tubuh kita sendiri, Uap pikiran kami mengisi ruang-ruang kosong di mobilku layaknya oksigen yg mengisi rongga paru-paru. Ada hal yang perlu aku mengerti dari dia. Ada hal yg ia harus mengerti dari aku. Dan hal-hal lain yang tak layak terucap, muncul begitu saja melalui lorong-lorong rasa bersalah. Kenangan atas 1 tahun hubungan kami yang akan terhenti begitu saja begitu kami sama-sama mengucap selamat tinggal didepan rumahnya.

What should we do to fill the silence when we are not relevant anymore? Tentu, detik ini kami masih memiliki relevansi—aku tak bisa begitu saja meninggalkannya ditempat asing dengan hati pecah berkeping-keping. Aku disampingnya mencengkram roda kemudi. Sesekali mencuri pandang kearah kursi pengemudi. Memindai keberadaan air mata. Aku lupa, aku sudah tak perlu menghapus jejak sedih di pipinya dengan sapu tanganku.

‘How does it feel? ‘

‘How does it feel?’

Bob dylan bertanya-tanya dari audio mobil. Aku masih diam. ‘how does it feel, indeed?’ aku tak tau apa yg aku rasakan. Lalu apa yang dia rasakan saat ini? aku juga tak tau. Mungkin ia juga sedang memikirkan prosedur penghapus ingatan yang dapat ia ambil seketika ia turun dari mobilku.

µ

Aku turun mendahului dirinya. Kemudian membukakan pintu untuknya—I’ve never been this such a gentleman. Kulihat, sejenak ia menatap kosong kearah depan, sebelum kemudian turun dari kursi penumpang. Hari ini ia menggunakan gaun biru tua yang menawan, dengan beberapa pernik di lengan, dan kalung berwarna biru lazuli yang terlihat mempesona di kulitnya yang pucat, ternyata aku tak menyisihkan waktu untuk mengapresiasi cantiknya dia hari ini.

Dan ketika ia sudah mantap berdiri di hadapanku. Ia menatapku, tersenyum. Dan mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih. no tears was shed. I never knew I was dated such a strong girl.

“sudah waktunya kita pulang” ucapnya sebelum melangkah masuk kedalam rumahnya. Meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya menjauhi pandanganku.

‘Now you don’t talk so loud,

Now you don’t seem so proud,

About having to be scrounging for your next meal’

tak ada musik di audio mobilku. Tapi aku masih bisa mendengar bob dylan meraung-raung.

 

µ

4.00, aku sudah bisa mendengar suara dari masjid beberapa blok dari rumahku. Sudah 4 jam aku menatap langit-langit kamarku.

Ada apa? is this a regret? is this sadness?is it a hesitation?is it me? is it her? Is it us?

Ribuan pertanyaan hadir, memicu aksi dan reaksi di komponen otakku. I left someone I’ve been with for a year without any real reason. Apakah aku masih waras? Tentu aku masih waras. I remember exactly the reason: I was stealing a relationship. I stole it from the destiny. I knew it from the beginning. she wasn’t meant to be with me. Aku berada dalam sebuah hubungan yang seharusnya bukan untuk aku jalani. Dan kini aku harus memulai segalanya dari tempat yang aku tinggalkan—sendirian, juga dalam sepi.

Advertisements

Published by

hafizgta

aspired to be writer, end up being a caption maker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s