Memento Vivere

Cappuccino ku sudah tandas. Tapi belum ada tanda-tanda umur alam ini mencapai batas. Kulihat orang-orang masih lalu lalang mencari meja kosong di bar ini. tampaknya bahwa belum ada mahluk alam ini—terutama manusia—yang merasakan pertanda akhir jaman. mungkin aku seharusnya lebih santai menghadapi pemikiran soal hari akhir. Yang lebih mendesak adalah alasan mengapa orang-orang yang lalu lalang tadi menatapku dan cangkirku dengan pandangan yang tidak enak.

Yes, the bar served coffee, dan menurutku kopi mereka lebih enak dibanding liquornya.

Kenapa aku minum kopi di bar? i’ve always been a coffee guy. Tentu seperti orang lain, aku melewati masa-masa minum susu terlebih dahulu. Tapi rasanya coffee is in my blood, as my parents both drinking coffee. Aku tak tahu sejak kapan mereka minum kopi. entah sama seperti aku yang minum kopi selepas lulus dari susu, Atau mereka pada awalnya minum minuman lain sebelum menemukan dirinya di kopi. but as much as memory goes, yang aku ingat mereka Cuma minum kopi.

    Ketika ku kecil, minum kopi adalah dosa serius. Semua anak segenerasiku masih minum susu. dan orang-orang dewasa mulai khawatir denganku. Aku memilih terlalu cepat dibanding teman sebayaku, mereka khawatir kalau aku akan tersesat diujung hidupku. Minuman bukan sesuatu yang bisa ditentukan buru-buru. Atas tekanan yang datang dari berbagai pihak, akhirnya pada masa itu aku berkompromi dengan memilih kopi susu. itu saja sudah memancing argumen banyak orang.

Perdebatan paling seru yang pernah aku hadapi adalah ketika aku memasuki masa remaja. Oposisi dari apa yang aku percaya adalah mereka yang meminum teh. There’s seems to be no end when we debate which drink is the best. Waktu berlalu, semua orang masih keras kepala dengan pilihannya, tanpa seharipun kami  berhenti mempengaruhi orang-orang yang belum menentukan apa yang mereka minum.

Nyatanya perdebatan remaja ini tak pernah benar-benar selesai. Semakin dewasa kami semakin tenang dalam menghadapi perdebatan ini. tanpa sadar kontender ketiga hadir, mengusik status quo dari perdebatan generasi kami.

Coffee vs Tea vs Alcohol

Tak ada yang betul-betul berdebat di umur kami yang semakin dewasa. Tapi ya nyatanya preferensi minuman terdengar seperti agama. You can’t openly declare that you at least once try the other beverages. Selalu ada kilah “wah saya khilaf”, “wah gaenak waktu itu kalo nolak”, atau “gak ada minuman lain sih”

Tanpa disadari idealisme dan segregasi kelas terkadang memisahkan kita dengan apa yang sebetulnya kita boleh mau. Tapi apa boleh dikata? That’s how society works. Kita tak bisa serta merta memisahkan peminum teh dengan elit-elit borjouis  yang hidup seenaknya, atau anak-anak punk tak terkontrol dengan alkohol. Juga orang-orang lainnya yang berusaha menciptakan sub-kelas dari minuman-minuman yang sudah ada di generasi kami seperti teh tarik, dan beberapa jenis minuman fermentasi tradisional. Dan yang paling penting mengapa ada antipati terhadap orang-orang yang tidak atau belum menentukan pilihan?

Dari sebuah kontemplasi, aku sadari. Why this have to be so serious? Dan terkadang munafik adalah hal yang tak bisa dihindari oleh orang-orang yang mencari. Why we ought to be so judgemental on people whose lost? Bukankah sedari awal ini adalah pilihan? Dan memilih pilihan yang salah juga merupakan pilihan? Bagaimana dengan tidak memilih? apakah itu masih merupakan pilihan? Dan bila pilihan ini sudah menjadi dosa atau pahala, mengapa merasa perlu mengambil peran tuhan sebagi hakim? Siapa yang tahu minuman yang akan disajikan di surga?

Pertanyaan-pertanyaan sebesar semesta itu biasa dijawab dengan “memento mori” yang artinya ingatlah (kau akan) mati. Karena manusia ada untuk mengingatkan manusia yang lainnya.

Tapi aku dengan dalih yang sama menyatakan sisi lain dari mata koin: “memento vivere” ingatlah (kau sedang) hidup. So why we need to be so grim about life? Life is short. Don’t be too fixated on something.

Advertisements

Published by

hafizgta

aspired to be writer, end up being a caption maker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s