Melangkah Bersamamu

ku bicara kepada langit untukmu.

Dibawah sinar rembulan,

Juga mega-mega yang terharu-tersipu

Menonton kita menari-nari,

Saling cumbu dalam bayang antara bumi dan kartika

 

Malam itu,hanya ada kamu

Tersenyum dan tersipu

 

Seketika, rembulan pun tau,

Sesungguhnya dimalam itu juga,

diriku seutuhnya,

Melangkah bersamamu.

Advertisements

Jika Waktu

Jika waktu kan’ berhenti untukku

Kurekahkan mimpi, hingga wanginya mengisi

Keluar, hingga pori-pori pikiranku

 

Kepadanya pencari terang

Yang telah menghisap habis ceritaku

 

Aku kini berlari

Ku berdiri lagi, walau tak kembali

Melesatkan nyawa yang terhenti

Hingga kaki-kaki itu bergumam kembali

 

Cerita, gempita, dan derita

Kan tercetak kembali.

Dari abu yang tercetak oleh api

Untuk api yang terpercik lagi.

Untuk cerita yang tak mencekik janji.

 

seonggok malam

hari ini kupungut malam dari tidurku

‘tuk merupa gelap yang mengganggu.

merangkul isyarat yang tak terbaca

oleh diriku sendiri yang menerka.

 

tak ada yang tau pasti, mengenai

apa yang dikehendaki jiwa-jiwa yang sepi

nyatanya, seperti sigaret yang membara

hidup akan semakin habis, mau dibiarkan

atau dihela.

 

• • • • • • •

 

keparat yang menempel di paru-paru

dan kerak di sepatu

selalu mengingatkanku mengenai ia yang

sibuk menjemput mati, kuingat

cerita yang tak ada lagi

 

ini bukan cerita seseorang yang tak mau lagi,

ini tentang hidup yang tak bisa kembali.

 

yang kembali hanya sepi,

mengapit hidup diantara dua janji

yang kemudian hilang dan

terbilang lagi

merangkak di kanal cahaya

dunia dalam tatanan bit and byte perlahan menyeruak ke kehidupan nyata manusia. perlahan kesadaran kita dipecah dan dicacah.

pertanyaan mengenai mana yang nyata, mana yang maya sudah sewajarnya tak diacuhkan. karena kita sudah semakin sulit membedakan mana yang biner dan mana yang abu-abu.

secarik kertas kini semakin sulit untuk bicara banyak. pilihan selalu hadir dan tak terhindarkan, berada di region yang terasa sama-sama artifisial.

lalu mana yang esensial? kita semakin buta prioritas. lifestyle dan tatanan sosial melaju bersama kehidupan di dunia digital. semua tidak menyisakan ruang untuk merenungkan seberapa besar kita dibuat delusi—delusi kebijaksanaan.

kini kita mengurai sinyal melalui panca indra. dimana bias-bias numerik mempengaruhi cara kita mengecap hidup.

data bergerak indah, melenggok di kanal cahaya.
kita masih merangkak lupa budaya.

 

Hujan Datang Sebagai Bahasa

Untuk perempuan yang menggunakan hujan sebagai bahasa. Beritahu aku, Kemana kau larutkan lara?

Kulihat hujan seakan bicara kepadamu melalui teduh yang ia bawa. kau tatap ia melalui tepi-tepi jendela, dibalik teralis dan kelambu. Lama kelamaan, Kau yang memang tak pernah ragu, dibuatnya larut dalam candu.

Dari caramu membisikan hujan, aku tau kau berujar untuk tak didengar. Kau rayakan cinta dan cerita kala hujan berbicara. Dan kau dibuat girang karenanya.

Tetapi selayaknya cinta. Ia tak perlu datang tiap saat untuk dihargai. Ia kan pergi dan kembali. Kadang dapat di prediksi, kadang tak peduli. dan juga lara tak perlu dihapus tiap kali ia mengental. nestapa tak perlu dientas kan oleh awan gelap.

Mari menunggu terang. Agar hujan kan selalu bisa dinikmati. Dan aku dapat mengertimu dalam bahasamu

Senjakala Fase Mahasiswa

 

Jerit pelan terdengar di telingaku

Soal gagahnya pendahulu-pendahulu

Yang dulu mahasiswa.

 

Bagaimana gagasan mereka

Diusung hingga meja penguasa

Juga, lantang teriakan mereka

Masih terdengar 2 dasawarsa

 

Senjakala fase mahasiswa

 

Aku terpikat tuk lari leluasa

Nyatanya, dari subuh terikat puasa

Jadi sekumpulan yang sama tak perkasa

 

Terbit jadi manusia biasa,

Pendahulu yang kini jadi penghulu

Apakah mereka seperti aku?

 

Ada bayang kelam dibalik gagahnya masa muda

Soal manusia yang melepas umur tuk jadi dewasa

menjadi berbeda, dan bahasa gelisah yang mempengaruhinya

Ada rangkaian dan untaian yang sukar terbaca dalam hikayat tak tertulis—tapi dapat dibaca layaknya kitab—dari hidup seorang manusia yang tinggal di tanah air. Kurasa ada kesamaan dari kebanyakan orang yang hidup hari ini, itu merupakan keinginan untuk menjadi berbeda dari orang lain

Ada apa dengan keinginan untuk berbeda? Apakah ia serupa dengan keinginan tuk tak sama?

Ada keinginan besar untuk menjadi tak lazim, hal ini melekat pada diri kita seakan memang tercetak dalam dna kita. Menjadi tak biasa, seperti dia. Menjadi melenceng, seperti orang itu. Juga menjadi bengkok atau tengkurap, seperti orang-orang lainnya.

Frasa “seperti” menjadi bagian hidup cerita soal mimpi-mimpi menjadi berbeda, baik dalam bentuk pro selayaknya ilustrasi tadi. Atau kontra, menjadi “tak seperti”. “seperti” merupakan Sebuah kata padanan yang berarti serupa, atau menjadi sama. Lalu bagaimana ide soal menjadi sama menjadi dorongan untuk haus akan menjadi berbeda?

Mau tak mau, ide selalu menjalar dan merambat tanpa kita selalu dapat kendalikan. Tersibak dalam semiotika, Banyak cara sebuah ide ditransformasikan menjadi bentuk lain, tuk kemudian di transmisikan dan di tangkap dalam bentuk lain pula. Seperti mengenai cerita mengenai marlboro man “membisikan” keinginan kuat untuk merokok tanpa “mengiklankan” rokok itu sendiri. Ide bertransformasi,bertransmisi,dan diterima tanpa harus berbentuk ide pokok itu sendiri dikepala kita.

Tentu, terkadang ide yang menjalar tidak selalu berbentuk konkrit untuk dijelaskan. Apalagi dengan bahasan non ilmiah, dan obrolan warung kopi seperti ini. singkatnya, yang akan dibahas disini adalah salah satu bahasa yang bisa terbaca tapi tak perlu tertulis; bahasa kegelisahan.

Entah ini adalah konspirasi dari media kapitalis, atau sekedar hegemoni dari orang-orang yang menginspirasi. tetapi gelisah adalah bahasa universal yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orang tanpa harus banyak menuangkan pikiran didalamnya. Bahkan emosi positif pun bisa memicu kegelisahan masyarakat kebanyakan.

Seperti cerita inspiratif yang membentuk keinginan tuk berubah, ditambah kegelisahan untuk menjadi stagnan. Juga cerita soal lepas dari belenggu, yang mendorong keinginan untuk mencari kebebasan, sekaligus gelisah dengan keadaan yang sedang dijalani.

Tentu, hal diatas masih menghasilkan “kegelisahan positif” yang mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik. Tetapi hari ini, kegelisahan positif tersebut tampaknya telah menjadi komoditas, yang dicari dan kemudian dijual di khalayak ramai. Orang-orang mencari dosis dari inspirasi, untuk mengisi sakau kegelisahan untuk merasa lebih baik. Dalam candu yang dimasifkan oleh media sosial, orang-orang bertransformasi untuk memecah rasa nyaman, dan kemudian menyebarkan kepuasannya untuk rasa puas menginspirasi orang banyak.

Media sosial kemudian menjadi alat untuk mencari, dan menjual perasaan gelisah secara kolektif

kolektif dari rasa gelisah menghasilkan rasa ketertinggalan. Takut untuk tertinggal dari orang lain, gerakan masif yang juga diciptakan rasa takut kekurangan dosis gelisah menjadi terus dinamis bergerak di lini masa sosial media. Yang populer di sebut “fear of missing out”

fear of missing out ini lah yang mengkonstruksi perasaan harus untuk berbeda dan tak lazim, untuk mengisi rasa yang dikuras oleh perasaan gelisah. Bayangkan alur nya seperti ini. seseorang sukses menceritakan bahwa ia harus berubah dan menjadi beda sebelum mendapat pencapaian dia saat ini. menciptakan rasa gelisah bahwa orang tak akan sukses bila ia tidak berubah. ide tersebut teramplifikasi secara masif melalui sharing di media sosial. Kemudian konteks “menjadi berubah” bergeser untuk menjadi “berbeda”. semua orang merasa perlu untuk berbeda, hasil hegemoni sosial menciptakan pemikiran: bila ia tidak berbeda, ia akan tertinggal. Dan bila ia tertinggal ia tidak akan sukses menjalani hidup—seperti ide awal sebelum bertransformasi.

Sampai kapan keinginan untuk berbeda menjadi dorongan utama agar tidak tertinggal? Saya pun tidak tau. Amat menarik bagaimana kegelisahan menciptakan frasa mengenai perbedaan menjadi fenomena akan takut dari ketidaksamaan.